This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Jumat, 08 April 2011
PKMM
06.17
anggar j-sep
A. Latar Belakang
Beberapa tahun terakhir ini energi merupakan persoalan yang krusial didunia.Peningkatan permintaan energi yang disebabkan oleh pertumbuhan populasi penduduk dan menipisnya sumber cadangan minyak dunia serta permasalahan emisi dari bahan bakar fosil memberikan tekanan kepada setiap negara untuk segera memproduksi dan menggunakan energi terbaharukan.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai altenatif pengganti bahan bakar minyak.Contoh sumber energi alternatif adalah bioarang, briket dan biogas.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan propinsi yang tidak memiliki potensi sumber daya energi fosil. Untuk memenuhi kebutuhan energinya seperti: bahan bakar minyak, batubara dan gas harus dipasok dari daerah lain. Namun DIY mempunyai sumber energi terbarukan, seperti: energi air, surya, angin, ombak dan biomassa. Sumber energi terbarukan ini merupakan energi alternatif meskipun hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.Salah satunya sumber energi yang dapat diterapkan adalah biogas dan briket.
Gunung Kidul merupakan salah satu kabupaten di DIY yang memiliki potensi menciptakan sumber energi alternatif.Dalam hal ini yang memiliki potensi untuk menciptakan sumber energi alternatif adalah Desa Songbanyu, dimana di daerah ini kurang mendapatkan informasi tentang pemanfaatan kotoran ternak untuk menciptakan sumber energi.Jika potensi tersebut dapat diterapkan oleh warga sekitar, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan menghemat sumber energi masak yang berasal dari alam sekitar.
Potensi dari sektor peternakan, sebagian besar masyarakat Desa Songbanyu selain sebagai petani juga memiliki sampingan sebagai peternak, bahkan terdapat peternak ayam dalam kapasitas besar yang mampu menghasilkan limbah kotoran cukup banyak.Lebih dari 20 kandang ayam dengan kapasitas kurang lebih 1500 ekor ayam dan menghasilkan kotoran lebih dari 2 ton/ kandang setiap panen (40-45 hari).Kotoran tersebut biasanya hanya dimanfaatkan sebagai pupuk.Namun tidak semua masyarakat menggunakannya, apalagi jika musim penghujan limbah hanya ditumpuk atau dibuang, sehingga mengalir kemana-mana dan mencemari lingkungan sekitar.
Pengolahan kotoran ternaksebagai sumber energi biogas merupakan suatu keniscayaan yang mampu memecahkan permasalahan yang ada, bahkan mampu menggantikan kayu bakar, gas elpiji, dan minyak tanah sebagai sumber energi bahan bakar masak.Pada dasarnya, biogasmerupakan proses produksi gas bio dari material organik dengan bantuan bakteri. Proses degradasi material organik ini tak melibatkan oksigen, atau disebut anaerobic digestion. Sebagian besar (50 % lebih) gas yang dihasilkan berupa metana.Sisa dari fermentasi biogas yang dihasilkan, dapat diolah lagi untuk dijadikan briket.
Adapun potensi dari sektor pertanian yaitu sisa hasil panen yang tidak dimanfaatkan lagi, contohnya:kulit kacang, tempurung kelapa, dan bonggol jagung. Limbah tersebut dapat diperoleh setiap kali pasca panen yang biasanya hanya dibuang atau dibakar.Padahal dari limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan briket yang berfungsi sebagai pengganti bahan bakar masak, disamping itu juga mencegah rusaknya lingkungan akibat pemakaian kayu bakar dalam jangka panjang.
Dalam pembuatan briket dari limbah pertanian, melalui proses awal yaitu pembakaran biomassa sehingga terbentuk pengarangan, yang selanjutnya penghalusan arang, pencampuran dengan tepung kanji sebagai perekat dengan perbandingan 10:1 (biomassa : tepung kanji), setelah pencampuran hingga rata, kemudian tahap terakhir yaitu pencetakan serta penjemuran.
Biomassa dalam pembuatan briket dapat dimodifikasi yaitu dengan menggunakan hasil limbah pertanian dicampur denagn hasil limbah biogas.Yaitu dengan komposisi limbah pertanian : limbah biogas : tepung kanji = 45% : 45% : 10%. Dalam proses pembuatannya sama dengan pembuatan briket dengan biomassa dari limbah pertanian.
Berdasarkan uraian diatas, masyarakat perlu diperkenalkan dengan teknik-teknik pengolahan limbah untuk sumber energi yang mudah dan murah seperti biogas dan briket, sehingga masyarakat dapat melakukannya sendiri tanpa membutuhkan biaya yang mahal.Dengan demikian, diharapkan mampu mengolah limbah sebagi sumber energi, yang bernilai jual ekonomis sehingga mampu menambah penghasilannya atau setidaknya dapat mengurangi pengeluaran kebutuhan sehari-hari serta menjadikan desa tersebut sebagai desa percontohan nasional yang berbasis kemandirian energi.
B. Perumusan Masalah
1. 1) Perlu adanya kesadaran masyarakat tentang sumber energi yang ramah lingkungan
2. 2) Perlu adanya pemanfaatanlimbah ternak dan pertanian oleh masyarakat Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul
3. 3) Perlu segera diterapkan penggunaan biogas dan briketdi Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul
4. 4)Perlu terciptanya Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, sebagai Desa PercontohanNasional yang berbasis kemandirian energi.
C. Tujuan Program
1. 1)Adanya kesadaran masyarakat tentang sumber energi yang ramah lingkungan
2. 2) Adanya pencapaian pemanfaatan limbah ternak dan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul
3. 3)Terwujudnya penggunaan biogas dan briket di Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul
4. 4) Mewujudkan Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, sebagai desa percontohan nasional yang berbasis kemandirian energi.
D. Luaran Yang Diharapkan
1. Kesadaran masyarakat tentang sumber energi yang ramah lingkungan
2. Dihasilkannya pemanfaatan limbah ternak dan pertanian yang dapat dijadikan acuan dalam pembuatan biogas maupun briket.
3. Menciptakan masyarakat desa sebagai kontrol utama dalam kelestarian lingkungan.
4. Terpenuhinya kebutuhan energi bahan bakar masak secara mandiri.
5. Mengurangi subsidi pemerintah dalam pengadaan energi bahan bakar masak.
6. Untuk mencegah rusaknya lingkungan akibat pemakaian kayu bakar.
7. Terwujudnya masyarakat dengan penggunaan sumber energi biogas maupun briket arang yang dapat diikuti oleh masyarakat lain.
8. Terciptanya Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, sebagai Desa Percontohan Nasional yang berbasis kemandirian energi.
E. Kegunaan Program
1. Memberikan kesadaran masyarakat tentang sumber energi yang ramah lingkungan (aspek pendidikan dan kesehatan)
2. Memberikan ilmu dan keterampilan bagi masyarakat dalam pemanfaatan limbah ternak dan pertanian dalam pembuatan biogas maupun briket (aspek pendidikan dan ketrampilan
3. Membuka lapangan kerja baru dan pendapatan masyarakat secara luas dalam bidangenergi bahan bakar masak (aspek ekonomi)
4. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan (aspek lingkungan hidup)
5. Menghemat sumber daya alam yang tidak terbarukan (aspek lingkungan hidup)
6. Sebagai desa percontohan nasional berbasis kemandirian energi (aspek pendidikan)
F. Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
Profil Desa Songbanyu dan masyarakatnya dijelaskan sebagai berikut :
1. Letak geografis
Desa Songbanyu merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunung Kidul Propinsi DIY. Desa ini dalam pemetaan Kabupaten Gunung Kidul berada di wilayah bagian timur . Desa yang terdiri atas 13 Pedukuhan dan 1010 Kepala Keluarga (KK) ini berjarak 80 Km dari Kota Yogyakarta dengan akses jalan yang cukup baik.
2. Gambaran Umum Kondisi Masyarakat
Desa Songbanyu merupakan salah satu desa di Kabupaten Gunung Kidul yang memiliki penghasilan limbah ternak dan pertanian yang belum dimanfaatkan secara baik, untuk pengolahannya yang lebih efektif, mudah dan ramah lingkungan belum dimanfaatkan.Sehingga perlu adanya pelatihan menciptakan sumber energi berbasis kesehatan lingkungan yang mudah dan murah.
Masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan khususnya dibidang sumber energi bahan bakar masak masih menggunakan kayu bakar.Selain kebiasaan masyarakat setempat, potensi alamnya yang masih mendukung juga mudah dan murah. Hal ini lah yang mendorong masyarakat menggunakan kayu bakar tanpa memikirkan dampak lingkungan sekitar untuk kedepannya.
Selain penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar masak, masyarakat setempat melakukan penebangan kayu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan menjual kayu kubikan dengan harga sekitarRp 80.000,00/kubik. Bagi masyarakat yang memiliki lahan luas dan sumber kayu banyak, tebang total (kayu glondongan) masih dilakukan tanpa ada kontrol dari pihak-pihak tertentu.
Dari aktifitas warga setempat dengan kebiasaan-kebiasaanya jika tidak diarahkan sejak dini maka akan merusak lingkungan serta berkurangnya sumber potensi alam yang dimiliki. Ditambah seiring berjalannya peningkatan populasi manusia, akan mengakibatkan peningkatan penggunaan sumber energi. Sehingga tahun-tahun yang akan mendatang kerusakan lingkungan dan kelangkaan sumber energi sudah menjadi resiko di Indonesia.
G. Metode Pelaksanaan Program
Dalam proses pemanfaatan limbah ternak dan pertanian ini terdapat dua kegiatan yang akan dilakukan, sebagai berikut :
1. Penyusunan bahan materi pelatihan yang disesuaikan dengan permasalahan di Desa Songbanyu. Untuk mengetahui permasalahan yang akan dihadapi terkait dengan bahan/materi pelatihan, dilakukan survaui lapangan dan wawancara dengan kepala desa. Bahan rujukan dalam penyusunan materi diperoleh dari literatur dan sumber internet. Topik utama berkaitan dengan materi yang akan disampaikan dalam pelatihan adalah :
a. Pendekatan ilmiah tentang energi alternatif yang ramah lingkungan.
b. Membangun kesadaran masyarakat mengenai energi yang ramah lingkungan.
c. Pemanfaatan kotoran ternak dan limbah hasil pertanian.
d. Pemanfaatan kotoran ternak untuk biogas.
e. Praktek pembuatan biogas.
f. Pemanfaatan limbah biogas dan pertanian untuk pembuatan briket.
g. Praktek pembuatan briket dari limbah biogas dan pertanian
h. Kesinergisan upaya menciptakan desa percontohan nasional berbasis kemandirian energi.
2. Pelaksanaan pelatihan
a. Pengorganisasian pelatihan.
Dalam pelaksanaan pelatihan, akandilaksanakan disalah satu rumah warga yang telah ditunjuk dan telah mendapatkan perizinan sebelumnya. Dalam perlatihan ini akan mengundang warga, karangtaruna dan kader-kader setempat.
b. Metode pelatihan.
Metode pemanfaatan limbah ternak dan pertanian akan disampaikan dengan tiga cara, yaitu (a) penyuluhan dengan media audio visualslide diruangan, (b) pemberian materi, (c) praktek materi yang akan dilaksanakan di tempat salah satu warga yang telah ditunjuk sebelumnya.
c. Waktu dan target pelatihan.
Pelatihan dilakukan sebanyak 10 kali tatap muka (kombinasi teori dan praktek) setiap hari minggu.Sesi teori selama satu jam, sedang praktek dua jam.Diharap dengan waktu yang telah direncanakan masyarakat mampu menerima materi pelatihan yang telah disampaikan serta mampu diaplikasikan dengan baik



